Membuka Lanskap Kehidupan Komedian dalam film Mati Ketawa (2026)

Yogyakarta, 22 September 2026 — Film pendek Mati Ketawa yang disutradarai oleh Vigo Antony Novar Sasela tak sekadar menghadirkan panggung stand-up comedy sebagai latar cerita. Karya ini mencoba menyingkap sesuatu yang menurut sutradaranya sendiri masih jarang disentuh dalam film pendek lainnya: bagaimana duka bisa dieksplorasi lewat medium komedi tunggal, bukan sekadar dijadikan latar belakang emosional semata. 

Film ini mengikuti Fajar, seorang komika yang membawa materi paling personal dari seluruh materi yang pernah ia bawakan, yaitu ulang tahunnya sendiri yang tak pernah dirayakan sejak kecil karena hari kelahirannya bertepatan dengan hari kematian ibunya. Setelah kehilangan ayahnya pula, Fajar akhirnya naik ke panggung membawa kue dan lilinnya sendiri, merayakan ulang tahun yang selama ini tertunda.

Menurut Vigo, ide awal film ini lahir dari keinginan mengeksplorasi duka lewat sesuatu yang jarang dipakai di film pendek, yaitu stand-up comedy. Gagasan itu kemudian diwujudkan menjadi skenario, sebelum akhirnya menargetkan kolaborasi dengan Fajar Mukti, komika yang dikenal lewat Suci 11. Kolaborasi tersebut berjalan jauh lebih dalam dari sekadar casting, Fajar menulis sendiri seluruh materi stand-up yang dibawakan dalam film, sesuatu yang menurut Vigo justru menjadi kunci membuat materi ini terasa personal meski dibungkus fiksi. 

Tantangan terbesar penulisan skenario, menurut Vigo, bukan menciptakan materi stand-up, melainkan mencari cara untuk membalut materi milik Fajar dengan drama yang dibangun di sekelilingnya. Fajar sendiri tidak diposisikan sebagai komika dalam artian profesi semata, ada koneksi lain yang coba digali Vigo, yakni bagaimana seseorang mencurahkan keluh kesahnya, baik lewat film maupun lewat panggung stand-up comedy, dan bagaimana kedua bentuk penceritaan itu bisa digabungkan dalam satu karya. 

Untuk menghindari representasi stand-up comedy yang terasa artifisial, adegan panggung dalam film ini direkam dalam satu long take. Pilihan ini membuat penonton film seolah benar-benar duduk di ruangan itu, menonton satu set utuh berjalan seperti pertunjukan stand-up comedy sungguhan, bukan rekaan yang diatur lewat ritme editing.

Pada adegan penutup di pemakaman, Vigo memilih pendekatan yang sederhana namun berbicara banyak lewat kostum. Fajar menjadi satu-satunya karakter yang mengenakan kemeja putih di antara orang-orang lain yang hadir di sekitarnya. Pilihan warna itu, menurut Vigo, bersifat subjektif, putih menandai bahwa duka Fajar sudah selesai, sebuah penanda emosional yang disampaikan tanpa dialog, hanya lewat warna dan siapa yang mengelilinginya di adegan tersebut. Alih-alih menjelaskan lewat narasi verbal bahwa Fajar akhirnya berdamai dengan kehilangannya, Vigo membiarkan kostum dan komposisi adegan yang berbicara.

Oleh Iniko Rafa Delmora Aziz

Oleh Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri

Editor  Arina Chuuriyyah Herawati

Editor  Arina Chuuriyyah Herawati

Penerjemah  Asi Dewiana Sandra Putri

Bagikan postingan ini melalui:
Facebook
X
WhatsApp
Telegram
LinkedIn
Komentar • 0

Tulis komentar kamu

Update Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *