Palsubuuk! (2023) – Petaka Hoaks Media Sosial

Di tengah kemajuan teknologi yang berjalan begitu cepat, rupanya terdapat masyarakat yang belum siap dalam menghadapinya. Ketidaksiapan ini digambarkan dengan sangat jelas lewat film Palsubuuk! Yang mengisahkan hancurnya sebuah warung bakso akibat satu unggahan media sosial yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Melalui film ini, kita tidak hanya melihat cerita mengenai drama komedi yang klise, tetapi juga masalah nyata yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Semangkuk mi ayam dan bakso hangat buatan Waluyo di desa Wedikere seharusnya menjadi tempat makan yang nyaman. Usahanya selalu ramai karena hasil kerja kerasnya setiap hari. Namun, masalah dimulai dari tuduhan yang kerap dilemparkan kepada para pedagang: penglaris. Ketika ada pembeli yang merasa rasa makanannya berubah saat dibungkus dan dibawa pulang, alasan yang masuk akal seperti mi yang mengembang atau kuah yang mendingin langsung terlupakan. Pembeli tersebut malah mengambil kesimpulan cepat bahwa Waluyo menggunakan penglaris.

Masalah menjadi semakin besar ketika kecurigaan itu diunggah menjadi sebuah cuitan di media sosial. Opini buruk yang tersebar di internet dengan cepat meluas, merusak nama baik warung, dan membuat warga desa menjadi marah. Film ini kemudian mengkritik masyarakat dengan berani lewat kemunculan orang pintar yang dipanggil warga untuk mengusir setan. Di bagian ini, film membongkar sifat orang-orang yang suka mencari keuntungan melalui kebodohan orang lain mengenai hal-hal gaib. Si orang pintar ternyata hanya penipu yang memanfaatkan kepanikan warga demi mengejar ketenaran dan jumlah penonton saat siaran langsung.

 

Cerita bangkrutnya usaha Waluyo karena hoaks terasa sangat nyata. Kejadian di film ini mencerminkan pola beracun yang sering terjadi di sekitar kita. Sudah banyak tempat makan lokal yang terpaksa tutup hanya karena ulasan buruk yang terlanjur viral tanpa bukti yang konkret. Sosial media memang berguna untuk mengekspresikan diri, namun ironisnya ia malah digunakan untuk menjatuhkan orang lain. Fenomena tersebut seringkali muncul dengan masyarakat atau pembuat konten memberikan kritik asal-asalan demi keuntungan, hingga akhirnya malah merugikan pemilik usaha kuliner tanpa ada hukuman sosial yang jelas bagi pembuat hoaks.

Ketidakadilan yang paling menyedihkan ditunjukkan pada bagian akhir film, yaitu ketika warung Waluyo hancur dan bangkrut, orang yang menyebarkan hoaks tersebut dengan mudahnya membuat video klarifikasi. Reaksi netizen di dalam film yang memprotes pelaku mewakili rasa kesal penonton. Terasa ada ketimpangan yang besar ketika kata maaf di layar ponsel dianggap sudah cukup untuk mengganti mata pencaharian orang yang hilang. Pada akhirnya, film ini menjadi objek refleksi yang penting untuk memahami bahwa meskipun zaman semakin maju, rasa empati tidak boleh tertinggal di belakang.

Oleh Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri

Oleh Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri

Editor  Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri

Editor  Arina Chuuriyyah Herawati

Penerjemah  Asi Dewiana Sandra Putri

Bagikan postingan ini melalui:
Facebook
X
WhatsApp
Telegram
LinkedIn
Komentar • 0

Tulis komentar kamu

Update Terkait

Tambahkan Teks Tajuk Anda Di Sini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *