Bersama Membangun Negeri (2023) — Blusukan dan Tangis yang Dipesan

Dalam film Bersama Membangun Negeri, yang paling mengganggu bukanlah sekadar politisi yang jahat, melainkan betapa Heni tak berempati kepada Satinah hingga dengan santainya menyuruh Satinah — seorang janda tua di desanya, untuk menangis di depan kamera kampanyenya. Tidak lagi dengan diam-diam, tapi secara terang-terangan, seolah itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan.

Deo Mahameru membangun cerita ini lewat kegagalan demi kegagalan yang semakin lama semakin tidak masuk akal. Satinah tidak bisa menangis sesuai keinginan Heni, yaitu “menangis senatural mungkin”. Namun Satinah tak bisa melakukannya. Kadang  ia terlalu emosional, kadang ia terlalu pelan. Pengadaan audisi kepada ibu-ibu lain pun tak membuahkan hasil yang sepadan. Heni bahkan menunjukkan filter kamera kepada warga agar ekspresi mereka bisa disesuaikan sebelum direkam, dan warga itu justru kagum, tidak curiga. Ada sesuatu yang lucu sekaligus menyedihkan dari adegan itu, tawa yang langsung terasa berat di dada.

Semuanya meledak di depan makam suami Satinah. Lengkap dengan green screen di belakangnya, Heni meminta Satinah membayangkan hal yang tidak seharusnya diminta siapapun kepada orang yang berduka. Satinah tidak menangis. Ia menjambak Heni. Kamera melambat, dan rasanya seperti napas yang akhirnya bisa dilepas setelah ditahan cukup lama. Elly Lutan memerankan Satinah hampir seluruhnya dengan diam di sepanjang film, dan justru karena itu, satu ledakan kecil di ujung cerita terasa seperti kemenangan yang jauh lebih besar dari ukurannya.

Dua belas menit, tapi susah dikesampingkan begitu saja, karena kita tahu video seperti yang sedang dibuat Heni itu nyata, dan mungkin kita pernah menontonnya tanpa bertanya apa yang terjadi di balik layar.

Semuanya meledak di depan makam suami Satinah. Lengkap dengan green screen di belakangnya, Heni meminta Satinah membayangkan hal yang tidak seharusnya diminta siapapun kepada orang yang berduka. Satinah tidak menangis. Ia menjambak Heni. Kamera melambat, dan rasanya seperti napas yang akhirnya bisa dilepas setelah ditahan cukup lama. Elly Lutan memerankan Satinah hampir seluruhnya dengan diam di sepanjang film, dan justru karena itu, satu ledakan kecil di ujung cerita terasa seperti kemenangan yang jauh lebih besar dari ukurannya.

Oleh Asi Dewiana Sandra Putri
Oleh Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri

Editor  Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri

Editor  Arina Chuuriyyah Herawati

Penerjemah  Iniko Rafa Delmora Aziz
Bagikan postingan ini melalui:
Facebook
X
WhatsApp
Telegram
LinkedIn
Komentar • 0

Tulis komentar kamu

Update Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *