Author name: Sewon Screening

Ulasan

Ulasan Shinta Dating His Beloved Shint’a (2024)

Apa jadinya jika kisah cinta klasik seperti Ramayana tidak lagi digambarkan di atas panggung megah, melainkan berpijak pada realitas yang kasar dan keras di tengah riuh jalanan kota, di balik kostum tradisional yang lusuh, di antara deru kendaraan dan lampu-lampu jalan yang tak pernah benar-benar redup?

Artikel

Sewon Screening Unjuk Gigi dalam Layar Tandang Surabaya

Surabaya, 2025 — Sewon Screening berhasil mengadakan acara Layar Tandang Surabaya. Dalam pernyataan resminya, acara ini ditujukan untuk semua kalangan. Karena Kolaborasi yang baik dengan Independent film Festival dan Wisma Jerman, kursi penonon penuh dan film yang disajikan berhasil membuat Masyarakat terhibur.

SM_03097
Artikel

Berkenalan dengan Magnis Putri Exela: Di Balik Semangat Kolektif Sewon Screening 10

Sebagai festival film mahasiswa yang digerakkan oleh kolektivitas Himpunan Mahasiswa Film dan Televisi ISI Yogyakarta, Sewon Screening kembali menarik perhatian pada perayaan satu dekadenya tahun lalu. Penulis berkesempatan mengobrol dengan Magnis Putri Exela, Manajer Festival Sewon Screening 10, dan mendengarkan kisahnya dalam mengelola festival yang penuh dengan semangat dan tantangan.

ALF00570
Artikel

Pengen Movie Date yang Unik? Mending Nonton Layar Tancap Klasik Ala Sewon Screening

Zaman memang sudah modern, tapi tetap saja layar tancap masih dicari dan dinantikan. Masyarakat seperti sedang merindukan kembali suasana yang dulu sempat jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Suasana nonton bareng di ruang terbuka menjadi hal yang mulai langka tapi masih banyak sekali peminatnya. Di beberapa titik, masih banyak masyarakat yang antusias ingin merasakan lagi untuk menonton layar tancap seperti dulu, saat-saat dimana bioskop belum seramai dan semewah sekarang. Sebab, selain suasananya yang khas, sebagian besar acara layar tancap diadakan tanpa pungutan biaya, alias gratis. Masyarakat umum bisa datang menikmati film dan mencari jejaring secara cuma-cuma.

Artikel

Jadi, Untuk Apa Kerja Keras Kita Membuat Film?

Membuat karya film merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Namun, tidak akan ada artinya jika tidak ada yang menonton. Sayangnya, seringkali terjadi pada kita sebagai sineas-sineas muda yang filmnya berhenti setelah proses produksi, sebab tidak ada rencana distribusi yang matang. Padahal, distribusi film adalah jembatan yang sangat penting, terlebih yang senang bukan hanya produser atau sutradara saja, tapi seluruh kru yang terlibat merasakan bahwa perjuangan mereka mendapat bayarannya ketika film itu bisa dinikmati.

Ulasan

Ulasan Sabung Raptor (2023)

Pada tradisi yang diwariskan turun-temurun di sebuah panggung, arena di mana sorak penonton terdengar. Memanggil ego manusia-manusia yang hadir dengan taruhan di tangannya. Seruan semakin terdengar kencang, semakin hebat, semakin riuh. Sama halnya dengan apa yang terjadi di film ini, “Sabung Raptor”.

Ulasan

Ulasan Flower in Fire (2024)

Dalam perbedaan-perbedaan pandangan kerap menjadi sumber masalah besar yang seakan tak pernah terselesaikan. Budaya masyarakat yang menolak perbedaan terus diwariskan dari generasi ke generasi, melahirkan diskriminasi tiada henti dan tak jarang memicu kekerasan serta ketidakadilan. Saat satu kelompok merasa terancam oleh kehadiran kelompok lain, respon yang muncul seringkali berupa penolakan dan pengucilan, yang akhirnya berujung pada konflik berkepanjangan.

Ulasan

Ulasan Spiral (2024)

Zaman kian berkembang, tuntutan hidup juga semakin kompleks setiap harinya. Manusia dengan cepat terpaksa beradaptasi, keluar dari zona nyaman miliknya. Terkadang ia diusik, diperintah paksa berlari guna menyamai zaman. Kita beradaptasi, tapi beberapa yang lain memilih untuk tetap diam, memilih bergelung nyaman di zona miliknya sendiri. Itu semua adalah pilihan, memilih untuk tetap diam ataupun beradaptasi. Tidak ada yang benar maupun salah di dua pilihan itu. Manusia memang sering dihadapkan dengan pilihan, sama halnya dengan apa yang tergambar dalam film berjudul “Spiral” ini.

Ulasan

Ulasan Meja Makan (Goodbye, Table Manner) (2018)

Keluarga merupakan tempat paling nyaman untuk kembali ketika seseorang menghadapi berbagai masalah. Selain itu, keluarga adalah tempat pertama yang menerima kita sepenuhnya tanpa syarat. Namun, kurangnya pengertian dan ketidakjujuran antar anggota keluarga dapat melemahkan fungsi keluarga, menghilangkan kepercayaan di antara mereka, dan menimbulkan konflik yang tak kunjung usai. Hal ini tergambarkan dalam film “Meja Makan,” yang mengisahkan tentang dinamika sebuah keluarga terdiri dari seorang Ayah, Ibu, dan Anak.