Author name: Sewon Screening

Ulasan

Ulasan Screen Time (2024)

Dunia animasi cerah warna-warni yang biasa dinikmati anak-anak, tiba-tiba berubah menjadi horor yang mencekam. Melalui perpaduan animasi, piksel dan lukisan, film Screen Time karya Yumna Taqiyyah merepresentasikan estetika konten mengganggu yang diakses anak-anak, memantik refleksi bagi para orang tua di seluruh dunia. Dalam film ini, kita diajak mengikuti bocah balita bernama Bobi yang berangkat dari rasa ingin tahu, sampai terpapar konten yang berbahaya. Lebih tepatnya, yang tidak sesuai dengan umurnya. Tanpa ada pengawasan.

Ulasan

Ulasan Enam Djam di Jogja (1951)

Baru beberapa saat yang lalu, kita mendengar kabar, kita mendapati, mungkin bahkan menyaksikan, maupun mengikuti aksi demo yang digerakkan oleh aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil di Jogja. Mereka berkumpul, berunding, bersiap melontarkan aspirasinya di hadapan aparat pemerintah. Tujuannya sama, mereka ingin didengar, mereka ingin beberapa hal yang ada di sistem dibenahi, diubah, mereka menuntut keadilan. Diketahui aksi resistance itu berlangsung selama lebih dari lima jam.

hbjbjn
Artikel

Apa Sih Serunya Diskusi Film?

Kenapa Diskusi Setelah Nonton Film Itu Penting? Pertama, kamu jadi bisa memahami film lebih dalam. Tidak semua makna film terlihat sekilas. Dengan diskusi, kamu bisa dapat perspektif langsung dari pembuat film, kritikus, atau bahkan penonton lain yang mungkin menangkap hal berbeda. Kedua, kamu bisa belajar cara membuat film. Bagi mahasiswa atau calon filmmaker, diskusi semacam ini adalah kelas master gratis. Di sini kamu bisa mendapat tips teknis, misalnya seperti kenapa adegan tertentu difilmkan dengan angle tertentu, atau bagaimana proses editing dapat mempengaruhi emosi penonton. Ketiga, kamu bisa membangun jejaring komunitas yang kritis. Sewon Screening tidak hanya mempertemukan penonton dengan pembuat film, tapi juga menciptakan jejaring antar-pecinta sinema.

Artikel

Tirai Pra-Event Turun, Tanggal Main Event Sewon Screening 11 Akhirnya Diumumkan!

Pada 29 Agustus 2025, Layar Institut Seni Indonesia berjalan dengan lancar. Udara dingin di Yogyakarta telah menciptakan 245 pasang mata tidak goyah menunggu layar terakhir di Pra-Event turun. Sebuah layar yang akan ditegakkan di tengah Boulevard kampus. Ini bukan sekadar pemutaran film, ini adalah pernyataan bahwa ruang sinema tidak selalu harus berdingin-dinding tebal, terkadang hanya membutuhkan orang-orang yang bersedia duduk untuk menonton.

Ulasan

Ulasan Modong: The Art of Having (2019)

Perspektif unik dari Diana Fitrianingsih lewat perantara Modong, nampaknya tersirat lebih dari sekedar trauma dan stigma sosial. Meskipun berbeda secara mendayagunakan gangguan jiwa sebagai representatif yang lebih dalam, sebagai penonton, kita diajak untuk menelusuri gejolak emosi yang dialami Modong.

Ulasan

Ulasan Balik Nama (In The Name of Liong) (2024)

Film ini menampilkan kedekatan emosional yang kuat di antar lintas generasi. Dengan penggambaran isu yang kuat, juga tampak sering terjadi pada realitas saat ini. Dan tak jarang juga, setiap orang juga berada dalam kondisi Umar, diantara kejujuran atau pragmatisme. Dan sutradara secara jelas ingin penonton merasakan dilema moral yang terjadi pada Umar.

Ulasan

Ulasan Bertuhan dan Bertahan (2024)

Mau tidak mau, kita harus berjalan. Mungkin, kalimat ini tepat untuk menggambarkan bagaimana perempuan yang sudah terjerat ini harus bertahan. Stigma dan dihakimi, sudah menjadi hal yang pasti terjadi dan sikap mereka selalu dipertanyakan. Padahal mereka juga tidak tau harus berbuat apa, terdengar jelas dari narasi yang narasumber bawakan.

Ulasan

Ulasan Seperti Tulang (2025)

Salah satu inti permasalahan pada keadaan saat ini adalah cinta buta dan berhubungan tanpa rencana. Tidak ada keuntungan selain kepuasan antar individu yang sesaat, dan sekelompok orang yang memperjual belikan tubuh seseorang. Mungkin hal itu yang menjadi penyebab, Agni Nurhalisah selaku Sutradara menciptakan film Dokumenter “Seperti Tulang” 

Ulasan

Ulasan Click, Post, Exist (2024)

Satu hal yang Penulis pahami ketika narasi secara gamblang menjelaskan bahwa media sosial membuat seseorang berupaya menjadi otentik, ialah semua orang ingin dirasakan keberadaannya, yang berarti banyak cara yang bisa individu lakukan untuk berusaha mencapainya, termasuk selfie di media sosial.