Tutup Gawai dan Bertaut pada Riuhnya Malam Malioboro

Malioboro, 23 Mei 2026 Seperti narasi mengenai media sosial yang sering terdengar di masyarakat luas, media sosial jelas memiliki pengaruh baik dan buruk dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak bisa dilihat secara hitam-putihnya saja, karena keduanya berjalan secara beriringan. Akan tetapi lambat laun, dampak negatif dari media sosial tampaknya lebih banyak merambah di setiap sendi kehidupan daripada dampak positifnya, menjadikan perspektif yang kaku mengenai media sosial. Oleh karena itu Sewon Screening — dengan mengusung tema besar “Bertaut pada Riuh” dalam acara Layar Lanskap kedua, ingin mengingatkan kembali bahwa terdapat hal yang kompleks di dalam segala hal yang berkaitan dengan media sosial.

Kompleksitas yang terkandung dalam segala hal yang berkaitan dengan media sosial tervisualisasikan dengan baik dalam film-film yang ditayangkan di acara Layar Lanskap. Tak hanya memberi pesan mengenai baik-buruknya internet dan media sosial, Sewon Screening juga menyajikan enam film dengan isu yang beragam. Mulai dari isu interpersonal dalam film Gombal, isu mental health dalam film Anxietus Domicupus, isu ekonomi dan keluarga dalam film Screentime, isu sosial dalam film Trashtalk dan Palsubuuk!, sampai isu politik dalam film Bersama Membangun Negeri. Keberagaman isu tersebut menambah variasi tontonan dengan tetap berlandas pada tema yang sama: media sosial.

Ragam isu yang diangkat dengan media sosial sebagai benang merahnya berhasil membuat para pengunjung terhibur, bahkan tak jarang gelak tawa dan tepuk tangan terdengar di penjuru venue. Tak hanya pengunjung resmi yang datang untuk menonton, banyak orang yang terlihat penasaran dengan acara Layar Lanskap, mulai dari pedagang sekitar, pengunjung yang sedang memilih pakaian, sampai pengunjung yang sekadar berdiri di air mancur. Hal ini sesuai dengan harapan Sewon Screening 12 dalam menjaring penonton-penonton baru melalui penayangan film yang diadakan di titik-titik ramai Kota Jogja. Layar Lanskap hadir di Teras Malioboro 2 untuk para penonton yang ingin rehat sejenak dari hiruk-pikuk era digital.     

“Kita kan mencoba untuk menjaring audiens-audiens baru, ya. Nah, salah satu audiens yang jadi target kita juga itu masyarakat umum. Dan kita ngeliat Teras Malioboro ini itu sebagai pusat kotanya Jogja. Makanya kita adain di sini,” ujar Virgi selaku Program Director ketika ditanyai mengenai alasan dan motivasi pemilihan lokasi acara Layar Lanskap.

Selain untuk menjaring penonton baru, alasan dan motivasi pemilihan Teras Malioboro 2 sebagai lokasi acara adalah karena adanya makna filosofis. Menonton film tentang dunia maya di tengah riuhnya pusat kota akhirnya menjadi ruang rehat yang unik. Malam itu, di bawah langit Malioboro, kita diingatkan kembali: di dunia yang makin sibuk berjejaring virtual, sesekali kita perlu berhenti sejenak di saat orang lain terlalu menyatu dengan ramai. Mengingatkan kembali bahwa internet dan media sosial tidak dapat dikotak-kotakkan pada konteks pengaruhnya yang kaku.

Oleh Arina Chuuriyyah Herawati
Oleh Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri
Editor  Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri
Editor  Arina Chuuriyyah Herawati
Penerjemah  Iniko Rafa Delmora Aziz
Bagikan postingan ini melalui:
Facebook
X
WhatsApp
Telegram
LinkedIn
Komentar • 0

Tulis komentar kamu

Update Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *