Apa Jadinya Kalau Film Bersinggungan dengan Seni Rupa?
- Arina Chuuriyyah Herawati
- Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri
Tikar yang digelar di depan prodi Tata Kelola Seni pada 26 Agustus 2026 dipadati oleh penonton yang didominasi oleh mahasiswa Fakultas Seni Rupa. Sembari menunggu film diputar, riuh suasana malam itu dibuat semakin pecah oleh kelakar MC yang tak ada habisnya. Sorak dan antusiasme mengiringi sambutan program director dan pembacaan catatan program Layar Seni Rupa yang bertajuk “Hijau yang Tak Nyaman”.
Alvi memilih deretan film dengan metafora visual yang pekat untuk memanifestasikan keresahan personal para sineasnya menjadi pengalaman intuitif bagi audiens. Keempat film yang diputar—“Sweetness Satan”, “Air Kencing Sakti”, “I’m a Flower”, dan “Nadir”—sepakat untuk lepas dari pakem narasi yang kaku. Mulai dari absurditas relasi antarkarakter hingga perwujudan visualnya, film-film ini diperlakukan layaknya kanvas tempat perasaan personal dieksplorasi secara bebas.
Lihat saja bagaimana “Sweetness Satan” menghadirkan tokoh Piyano yang jemarinya sanggup melantunkan nada piano. Elemen ajaib yang dipadu dengan latar cerita rakyat bidadari mandi di sungai ini berdiri sebagai simbol harapan di tengah bingkai duka kehilangan pasangan. Sementara itu, kompleksitas hubungan orang tua dan anak dalam “I’m a Flower” diolah lewat balutan animasi 2D penuh warna yang mengalir halus. Wujud bunga dalam film ini menjadi metafora pencarian identitas yang rapuh namun terus bertransformasi, mengontraskan dinamika personal tersebut dengan riuh dunia luar yang terus bergerak cepat.
Eksplorasi bentuk yang tak kalah memikat juga hadir lewat “Nadir”. Melalui pemilihan set surealis dan desain rumah dua dimensi, film ini menawarkan visual yang berlapis-lapis layaknya lanskap mimpi. Pilihan estetika tersebut membawa pesan tersirat yang cukup dalam: sejatinya tak ada tempat yang benar-benar tersembunyi, sebab bahkan tepat di depan pintu rumah, rahasia identitas orang-orang tersayang pun akan terbongkar.
Menariknya, di luar eksperimen bentuk yang beragam, keempat film ini disatukan oleh satu elemen visual yang begitu mencolok: lanskap hijau dan keberadaan tumbuhan. Keputusan Alvi merajutnya ke dalam tajuk “Hijau yang Tak Nyaman” rupanya bukan tanpa alasan. Kehadiran warna hijau di sini sengaja dilepaskan dari tema besar festival untuk merespons apa yang tampak di layar secara organik.
Hijau, yang selama ini akrab diartikan sebagai ruang tenang dan menenangkan, justru didekonstruksi menjadi pusat kecemasan dan keterasingan. Elemen alam dalam program ini lebih dari sekadar stiker aesthetic yang menempel sebagai latar cerita. Ia merupakan manifestasi dari ketidaknyamanan yang mengintai di lingkungan terdekat kita. Pendar layar malam itu seolah melempar pertanyaan reflektif kepada penonton: apakah perlahan-lahan kita sedang kehilangan ruang nyaman yang selama ini dipertahankan oleh warna hijau?
Eksperimen visual dan pekatnya metafora tersebut rupanya sampai ke bangku penonton. Dua mahasiswi DKV semester lima yang hadir malam itu—Kay dan Nadia—mengaku terikat dengan narasi visual yang disajikan. Saat membedah “Air Kencing Sakti”, mereka dengan luwes membaca simbolisasi di layar—melihat tatanan visualnya sebagai alegori tentang tanah, rumput yang berinteraksi dengan alam, hingga dominasi manusia yang mencoba menguasai lingkungan. Begitu pula saat menyaksikan “I’m a Flower”, impresi visual bunganya ditangkap bukan sekadar sebagai tumbuhan estetik, melainkan metafora atas kelompok yang terasing dan termarjinalkan di tengah masyarakat.
Pemutaran Layar Seni Rupa malam itu akhirnya membuktikan bahwa ketika film bersinggungan dengan seni rupa, layar tidak lagi bekerja untuk menggurui penonton. Film berubah menjadi ruang perjumpaan yang inklusif. Sebagaimana yang diutarakan Fattah Fajar selaku sutradara film “Nadir” dalam diskusinya, “Aku seneng sih kalau kalian punya interpretasinya sendiri.” Pernyataannya menegaskan bahwa nobar lesehan di pelataran TKS malam itu bukan hanya tempat untuk menonton, melainkan sebuah ajakan untuk berhenti sejenak, meresapi bentuk, dan berani berpikir kembali.
Penerjemah Asi Dewiana Sandraputri
Komentar • 0
Tulis komentar kamu
Komentar • 0