Lelah? Nonton Film Bisa Jadi Adalah Solusinya

Siklus hidup kita belakangan ini rasanya makin monoton. Pagi sampai sore kuliah, malamnya dikejar tugas sampai larut, lalu ditutup dengan doomscrolling TikTok atau Reels sampai subuh. Niat awal sebenarnya cuma ingin mencari hiburan untuk melepas penat. Namun, alih-alih merasa segar, kepala malah makin pening dan hati makin dirayapi FOMO akibat asupan konten instan yang tidak ada habisnya. Jika kamu juga mulai merasa jenuh dengan lingkaran setan algoritma media sosial yang melelahkan itu, mungkin ini waktu yang tepat untuk mengambil jeda sejenak lewat film.

Di balik keseruannya, meluangkan waktu untuk menikmati sebuah cerita yang utuh sebenarnya menyimpan banyak manfaat tersembunyi yang sangat kita butuhkan saat ini, di antaranya:

  1. Melatih kembali fokus pikiran sebagai bentuk detoks digital Di era ketika otak kita terus-menerus dipaksa mencerna potongan video belasan detik yang melompat cepat, daya fokus atau attention span kita tanpa sadar mulai terkikis. Menonton film berdurasi 90 hingga 120 menit membantu kita untuk memperlambat ritme, menikmati proses bercerita, menghargai detail visual, dan melatih pikiran untuk kembali tenang menyimak narasi yang utuh.
  2. Menjadi ruang aman untuk memvalidasi emosi Bagi generasi kita yang sering dihadapkan pada tumpukan ekspektasi tinggi dan ketidakpastian, sinema sering kali hadir sebagai ruang aman yang paling jujur. Saat melihat karakter di layar mengalami krisis eksistensial, merasa tersesat, atau patah hati, ada perasaan lega yang muncul karena kita sadar bahwa kita tidak sendirian di dunia ini. Sinema bekerja dengan meminjamkan mata orang lain untuk membantu kita mengurai emosi rumit yang bahkan sulit kita definisikan sendiri.
  3. Menawarkan energi komunal untuk mengikis rasa sepi Kenyamanan menonton lewat gawai sendirian di kamar kos memang praktis, tetapi ada keajaiban yang hilang dalam kesunyian tersebut. Menonton film pada hakikatnya adalah tentang berbagi pengalaman emosional. Ada energi yang tidak tergantikan ketika kita bisa menahan napas bersama saat konflik memuncak, atau tertawa lepas di tengah kegelapan ruang putar bersama orang-orang yang memiliki frekuensi yang sama. Kita butuh ruang fisik untuk berkumpul, saling bertukar sudut pandang, dan mengobrol hangat setelah lampu bioskop kembali menyala.

Ruang kolektif yang hidup, organik, dan hangat seperti itulah yang sedang coba dirajut kembali oleh Sewon Screening 12 kali ini. Di tengah penatnya dunia perkuliahan dan kepungan tugas-tugas akhir, hadirnya festival ini terasa seperti sebuah titik temu alternatif untuk kembali pada esensi sinema yang sesungguhnya.

Melalui kurasi karya-karya yang jujur, segar, dan berani, kita akan diajak melihat kembali berbagai keresahan yang barangkali merekam persis apa yang sedang kita lalui hari ini. Menghabiskan waktu di sini pada akhirnya bukan lagi sekadar perkara datang dan menonton, melainkan sebuah cara bersama untuk mengistirahatkan pikiran, merawat cerita, dan saling merayakan kehadiran satu sama lain di depan layar yang sama.

Oleh Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri

Oleh Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri

Editor  Arina Chuuriyyah Herawati

Editor  Arina Chuuriyyah Herawati

Penerjemah  Iniko Rafa Delmora Aziz
Bagikan postingan ini melalui:
Facebook
X
WhatsApp
Telegram
LinkedIn
Komentar • 0

Tulis komentar kamu

Update Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *