Trashtalk — Menakar Kemanusiaan dengan Humor yang Unik

Sinema komedi sering kali diidentikkan dengan tata cahaya yang matang, komposisi gambar yang presisi, atau visual yang memanjakan mata demi memancing tawa. Namun, aturan baku itu didobrak habis-habisan oleh sutradara Rizqullah Ramadhan Panggabean (Rizzcool) bersama rumah produksi Acah Acah Films lewat film pendek mereka yang berjudul Trashtalk (2023). Film fiksi berdurasi sekitar enam menit yang sukses menyabet penghargaan bergengsi di Minikino Begadang Filmmaking Competition 2023 ini tampil berani dengan menggunakan teknik visual yang sangat tidak biasa.

Alih-alih menyajikan frame estetik konvensional, Trashtalk justru menggunakan estetika realisme digital yang akrab dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu status WhatsApp (WA). Seluruh aktivitas dan linimasa cerita ditampilkan layaknya unggahan cerita berkala di media sosial tersebut. Menariknya, meski status WA identik dengan format vertikal (portrait), Rizzcool tetap mempertahankan format landscape. Keputusan ini membuat film tetap nyaman ditonton di layar lebar tanpa kehilangan keintiman visual dari kualitas kamera yang dirancang menyerupai tangkapan gawai untuk menjaga kesan natural di sepanjang film.

Narasi Trashtalk berpusat pada keseharian Pak Sulis, seorang petugas kebersihan di Desa Mojosongo yang gemar mendokumentasikan harinya lewat status WA. Penonton diajak mengintip rutinitasnya dari pagi hari melalui ucapan selamat pagi khas bapak-bapak, momen mengangkut sampah bersama rekannya, hingga kejengkelan jenaka saat melihat ibu-ibu menyalakan lampu sen kiri tapi belok ke kanan. Lewat potongan-potongan status inilah kehidupan seorang tukang sampah digambarkan secara jujur dan apa adanya.

Namun, di balik balutan komedinya yang segar, Trashtalk sebenarnya menaruh kritik sosial yang menampar keras kesadaran kita. Film ini merekam bagaimana kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan, seperti pasir kotoran kucing atau pecahan beling yang tidak dibungkus plastik yang pada akhirnya melukai pekerja kebersihan di lapangan. Lebih jauh lagi, Pak Sulis diletakkan sebagai objek yang dipandang sebelah mata oleh lingkungan sosialnya. Ada rasa sedih yang mendalam saat ia dijadikan contoh buruk bagi anak-anak, dan ketika saf salat Jumat yang mendadak kosong di sampingnya hanya karena badannya dianggap berbau tak sedap.

Melalui momen-momen ironis tersebut, Trashtalk melayangkan kritik tajam bahwa dalam struktur sosial kita, petugas kebersihan sering kali dianggap lebih rendah daripada sampah itu sendiri. Mereka kerap kali didehumanisasi dan tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya.

Puncak keunikan film ini hadir melalui metafora yang sangat personal dalam batin Pak Sulis. Hal ini tampak dari keterbalikan peran sampah dan manusia: sampah besar yang berisi manusia, dan sampah yang memiliki mulut untuk berbicara dengan Pak Sulis. Kejadian surealis ini menjadi tamparan filosofis karena membalikkan kedudukan moral manusia: makhluk yang disebut manusia justru bertingkah layaknya sampah karena perilakunya yang buruk, sementara sampah justru memperlakukan Pak Sulis dengan lebih manusiawi.

Konsistensi estetika ini bahkan dijaga ketat hingga akhir cerita. Bagian credit title film dikemas dengan sangat organik menggunakan format deretan status WA dari kontak bernama “Acah Acah Films”. Pada akhirnya, Trashtalk bukan sekadar film komedi eksperimental yang menghibur, melainkan sebuah ruang refleksi digital yang berhasil menelanjangi ego manusia langsung dari balik layar gawai mereka.

Oleh Arina Chuuriyyah Herawati
Oleh Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri

Editor  Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri

Editor  Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri

Penerjemah  Iniko Rafa Delmora Aziz
Bagikan postingan ini melalui:
Facebook
X
WhatsApp
Telegram
LinkedIn
Komentar • 0

Tulis komentar kamu

Update Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *