Curator Lab: Arsip Tak Harus Sempurna dan Cara Kita Menghidupkan Kembali Sinema

Ruang Melamun, 3 September 2026 — Bicara soal arsip film di negara berkembang kerap kali berujung pada ratapan yang sama: film yang hilang, fisik pita yang rusak, pendanaan yang minim, hingga infrastruktur yang tak memadai. Di Indonesia maupun Mesir, krisis ini bahkan kian kentara ketika arsip-arsip sinema sejarah justru dijual ke luar negeri atau terkunci rapat di ruang penyimpanan yang kaku. Namun, apakah kita harus berhenti membicarakan dan menghidupkan sejarah hanya karena arsip kita tidak “sempurna”? 

Pertanyaan mendasar inilah yang menjadi pemantik dalam workshop kuratorial Curator Lab. Dipandu oleh Bunga Siagian sebagai pembicara utama, ruang belajar ini mengajak para peserta membongkar kembali cara pandang kaku atas pengarsipan. Bunga menegaskan gagasan tentang Urgent Archive, bahwa yang mendesak dari sebuah arsip bukanlah bentuk fisik materialnya belaka, melainkan relevansinya dengan situasi hari ini.

  • Mendobrak Mitos Arsip Ideal

Selama ini, ada mitos yang diam-diam menjebak pemikiran kita tentang arsip yang baik adalah arsip yang utuh, sempurna, dan dipajang rapi di dalam museum ala standar Barat. Padahal, logika museum semacam itu kerap memisahkan arsip dari masyarakatnya dan memperlakukannya sekadar sebagai objek pameran masa lalu. 

Penyikapan arsip di Indonesia dan wilayah Global South seharusnya lepas dari paradigma tersebut. Arsip pada dasarnya memiliki kerentanan. Mengkotak-kotakkan arsip justru merupakan bentuk warisan kolonialisme yang memelihara dominasi kekuasaan. Untuk melawannya, arsip tidak boleh dibiarkan membeku. Arsip harus diaktivasi oleh komunitasnya, dihubungkan satu sama lain, dan dijadikan alat perjuangan untuk membalikkan narasi tunggal yang selama ini mendominasi. 

– Refleksi Pengalaman dari Kairo

Sesi workshop makin terasa substantif ketika Ahmed Refaat, seorang film programmer dan kurator asal Kairo, Mesir, bergabung secara daring melalui sambungan Zoom. Dari layar digital, Ahmed membagikan pengalamannya menggarap Afro-Asian Film Week—sebuah proyek pemutaran yang bertolak dari kenyataan pahit bahwa arsip film era solidaritas Asia-Afrika di Kairo hampir tidak ada. 

Dibanding menyerah pada ketiadaan dokumen, Ahmed memilih melakukan spekulasi dan eksperimen kuratorial. Ia mengundang teman-teman kurator lintas negara untuk saling bertukar ide dan film. 

“Ketika kita membuka diri untuk berkolaborasi, program yang selesai di akhir proses bukanlah program yang kita bayangkan di awal,” terang Ahmed—yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia—melalui via Zoom. Proses yang melepaskan wewenang tunggal kurator ini justru melahirkan program yang jauh lebih hidup dan kaya akan gagasan. Pengalaman Ahmed membuktikan bahwa keterbatasan arsip bukan alasan untuk berhenti bergerak, sebab spekulasi kuratorial justru menjadi taktik untuk merekonstruksi sejarah yang sengaja dihilangkan.

  • Social Cinephilia: Menonton untuk Berkawan dan Melawan 

Dalam sesi workshop tersebut, Bunga Siagian bersama para peserta juga membedah naskah manifesto bertajuk Social Cinephilia yang disusun oleh kelompok kolektif Kinoship. Manifesto ini lahir sebagai upaya memutus rantai tradisi sinema ala kolonial yang memperlakukan menonton film sekadar sebagai aktivitas individual di ruang gelap yang pasif.

Salah satu poin paling tajam dalam manifesto itu berbunyi: “Watch less films and talk to more people”. Artinya, menonton film tidak boleh membuat seseorang menjadi elitis, terasing, atau mengurung diri. Sinema harus menjadi wadah sosial untuk berinteraksi, mengkritik keadaan, dan membangun keberpihakan pada masyarakat yang tertindas.

Bahkan hal teknis seperti subtitling ditegaskan bukan sekadar urusan kecakapan bahasa, melainkan sebuah posisi politik. Pilihan kata dalam terjemahan bisa mengubah total cara pandang publik—apakah sebuah film akan dibaca sebagai drama romantis yang dangkal atau sebuah narasi perjuangan politik.

  • Mediasi Kuratorial sebagai Solusi

Ahmed Refaat menegaskan bahwa kunci utama supaya kurator dapat terbebas dari standar tunggal yang kaku ada pada mediasi kuratorial. Sebuah film sejarah atau film eksperimental tidak bisa begitu saja dilempar ke hadapan penonton tanpa konteks. Kurator bertanggung jawab menyediakan mediasi melalui catatan program yang terartikulasi dengan jernih, pengantar yang jujur sebelum pemutaran, serta ruang diskusi kritis yang dibangun secara serius. Lewat mediasi inilah, penonton dari berbagai latar belakang bisa menangkap mengapa sebuah film penting dan bagaimana ceritanya terhubung dengan kehidupan mereka hari ini.

Workshop hari itu ditutup dengan konsolidasi bersama para peserta untuk bersiap melakukan praktik langsung. Kerja kuratorial dan pengarsipan pada akhirnya bukanlah dogma yang sakral. Di tengah dunia yang penuh pergolakan, sinema dan arsip hadir bukan untuk dipajang di dalam museum, melainkan untuk diaktivasi, didiskusikan, dan diajak “bermain-main” bersama masyarakat.

Oleh Arina Chuuriyyah Herawati
Oleh Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri
Editor  Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri
Editor  Arina Chuuriyyah Herawati

Penerjemah  Asi Dewiana Sandraputri

Bagikan postingan ini melalui:
Facebook
X
WhatsApp
Telegram
LinkedIn
Komentar • 0

Tulis komentar kamu

Update Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *