Membawa Bioskop ke Jam Kosong Sekolah Demi Misi Regenerasi

Yogyakarta, 25 April 2026 “Layar Kenduren” menjadi tajuk kegiatan pertama preevent Sewon Screening 12. Sekat yang membatasi memori akhirnya dibuka dengan film-film yang akan diputar. Sebagai pengingat tanpa sekat, Layar Kenduren membaur dengan warga sekitar Sewon. Melalui acara ini, Sewon Screening berusaha mengembalikan cerita masa lalu yang tidak lekang oleh waktu, namun menyatu dengan masa yang akan datang guna membentuk individu di masa sekarang.

Melalui nama “Layar Jamkos”, acara yang digelar di IFI Yogyakarta (Institut Français d’Indonésie) ini mencoba bertransformasi sebagai obat dan ruang rehat dari segala  kejenuhan yang timbul di sekolah. Sewon Screening memberikan ruang rehat tersebut dengan mengajukan waktu senggang kepada beberapa sekolah supaya para siswa bisa singgah sejenak dari tugas sekolah yang menumpuk, sehingga bisa kembali dengan energi yang penuh. Hal ini selaras dengan asal-usul lahirnya konsep Layar Jamkos yang memanfaatkan waktu senggang siswa di sekolah.

Aflah, selaku Festival Director sekaligus moderator acara mengatakan bahwa inspirasi utama Layar Jamkos adalah pengalamannya sendiri ketika jam kosong pelajaran di sekolah dulu yang ia isi dengan menonton film. Dari pengalaman Aflah sebagai landasan konsep, Sewon Screening kemudian membedah pentingnya peran siswa dalam menggerakkan roda budaya menonton film hingga ke pembuatan film itu sendiri. Karena itulah Layar Jamkos ada untuk menitikkan penonton dari kalangan siswa, terutama murid-murid SMA.

“Kita melihat siswa/i sma sebagai audiens yang harus dijangkau karna kita melihat perkembangan yang cukup pesat juga dari film-film pendek karya anak sma, terlepas keterbatasan yang mereka miliki baik itu bagian teknis, maupun referensi. Makanya di sini Sewon Screening mencoba untuk masuk sebagai penyedia referensi melalui film yang ditayangkan dan juga komunitas berkembang bagi para filmmaker SMA. Selain itu kita juga ingin memperkenalkan kepada siswa/i sma mengenai bentuk bentuk film pendek yang tidak memiliki batas dalam menceritakan cerita yang personal.” Ujar Virgi, selaku Program Director.

Maka dari itu, dengan mengemban misi regenerasi pada siswa SMA, Layar Jamkos menayangkan empat film yang bertema sama dengan tajuk acara: “Seronoknya Mabuk Cinta”. Dengan tajuk tersebut keempat film tersebut ingin menyampaikan segala bentuk cinta yang melampaui romansa. Siang itu perwakilan siswa dari tujuh SMA yang berbeda tampak membaur di kursi penonton, menciptakan gradasi warna seragam putih abu-abu di bawah pendar cahaya proyektor yang menayangkan film-film segar.

Untuk menjalankan program berkonsep sekolah ini dengan totalitas, para panitia pun menetapkan dresscode panitia dengan mengenakan seragam SMA, atau baju bernuansa putih abu-abu. Hal ini dilakukan untuk menghidupkan suasana Layar Jamkos yang konsep acaranya adalah pemutaran film ketika sedang tidak ada guru di kelas.

“Kita juga mencoba untuk melebur dengan teman teman SMA yang datang dan membuka pintu mereka ke wadah Sewon Screening yang inklusif.” Tambah Virgi.

Antusiasme para penonton tidak kunjung padam hingga acara berakhir. Beberapa siswa SMA memberikan perhatiannya kepada film dengan melontarkan satu dua pertanyaan kepada filmmaker. Tak hanya selama acara berlangsung, antusiasme para siswa juga tetap tidak memudar bahkan setelah acara sudah usai. Mereka terlihat sangat  bersenang-senang ketika berfoto di depan layar yang bertuliskan Layar Jamkos dan saat membeli merchendise Sewon Screening.

Oleh Arina Chuuriyyah Herawati
Oleh Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri
Editor  Ailsa Luthfia Indrasari Laksana Putri
Editor  Arina Chuuriyyah Herawati
Penerjemah  Iniko Rafa Delmora Aziz
Bagikan postingan ini melalui:
Facebook
X
WhatsApp
Telegram
LinkedIn
Komentar • 0

Tulis komentar kamu

Update Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *