Author name: Festival Writer

Artikel

Selamat Datang di Sewon Screening, Angin Segar Dekade Baru

Yogyakarta 2025 – Festival film tahunan Sewon Screening kembali hadir di tahun ke-11nya, Sewon Screening membawa semangat baru bagi para sineas muda dan penikmat film independent. Bertempat di Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Festival ini resmi dibuka pada 21 September 2025 yang menandai dimulainya rangkaian pemutaran film dan program-program lainnya seperti forum komunitas, kelas bunga matahari dan masih banyak  lagi.

Ulasan

Ulasan Maghrib Jakarta (2025)

Maghrib Jakarta, film dokumenter garapan Deris Muhamad, menangkap momen-momen senja hingga azan magrib di ibu kota. Film ini secara intim memotret padatnya orang-orang yang bergegas pulang kerja, penuhnya jalanan, kereta, kedai makan, hingga pusat perbelanjaan. Uniknya, film ini diawali dengan potongan-potongan azan magrib yang saling bertumpuk, seolah memanggil dari berbagai sudut kota, berpadu dengan hingar-bingar kendaraan dan keramaian orang-orang.

Ulasan

Ulasan Jagat “Bersekat Namun Tak Terikat” (2024)

Sebuah pilihan yang ketika dilontarkan membuat dilema seorang anak, ikut ibu atau bapak? Film Jagat “Bersekat Namun Tak Terikat” karya Nagi Prabasawara Syaputra menempatkan kita langsung di tengah pergulatan emosi, kita bisa melihat keluarga yang perlahan runtuh melalui mata polos Jagat. Film ini mengangkat konflik internal seorang anak yang tengah terjebak dalam perselisihan orang tuanya yang akan bercerai, di mana cinta dan kebencian berbaur menjadi satu, menciptakan gejolak yang memaksanya untuk memilih satu sisi.

Ulasan

Ulasan Screen Time (2024)

Dunia animasi cerah warna-warni yang biasa dinikmati anak-anak, tiba-tiba berubah menjadi horor yang mencekam. Melalui perpaduan animasi, piksel dan lukisan, film Screen Time karya Yumna Taqiyyah merepresentasikan estetika konten mengganggu yang diakses anak-anak, memantik refleksi bagi para orang tua di seluruh dunia. Dalam film ini, kita diajak mengikuti bocah balita bernama Bobi yang berangkat dari rasa ingin tahu, sampai terpapar konten yang berbahaya. Lebih tepatnya, yang tidak sesuai dengan umurnya. Tanpa ada pengawasan.

Ulasan

Ulasan Enam Djam di Jogja (1951)

Baru beberapa saat yang lalu, kita mendengar kabar, kita mendapati, mungkin bahkan menyaksikan, maupun mengikuti aksi demo yang digerakkan oleh aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil di Jogja. Mereka berkumpul, berunding, bersiap melontarkan aspirasinya di hadapan aparat pemerintah. Tujuannya sama, mereka ingin didengar, mereka ingin beberapa hal yang ada di sistem dibenahi, diubah, mereka menuntut keadilan. Diketahui aksi resistance itu berlangsung selama lebih dari lima jam.

hbjbjn
Artikel

Apa Sih Serunya Diskusi Film?

Kenapa Diskusi Setelah Nonton Film Itu Penting? Pertama, kamu jadi bisa memahami film lebih dalam. Tidak semua makna film terlihat sekilas. Dengan diskusi, kamu bisa dapat perspektif langsung dari pembuat film, kritikus, atau bahkan penonton lain yang mungkin menangkap hal berbeda. Kedua, kamu bisa belajar cara membuat film. Bagi mahasiswa atau calon filmmaker, diskusi semacam ini adalah kelas master gratis. Di sini kamu bisa mendapat tips teknis, misalnya seperti kenapa adegan tertentu difilmkan dengan angle tertentu, atau bagaimana proses editing dapat mempengaruhi emosi penonton. Ketiga, kamu bisa membangun jejaring komunitas yang kritis. Sewon Screening tidak hanya mempertemukan penonton dengan pembuat film, tapi juga menciptakan jejaring antar-pecinta sinema.

Artikel

Tirai Pra-Event Turun, Tanggal Main Event Sewon Screening 11 Akhirnya Diumumkan!

Pada 29 Agustus 2025, Layar Institut Seni Indonesia berjalan dengan lancar. Udara dingin di Yogyakarta telah menciptakan 245 pasang mata tidak goyah menunggu layar terakhir di Pra-Event turun. Sebuah layar yang akan ditegakkan di tengah Boulevard kampus. Ini bukan sekadar pemutaran film, ini adalah pernyataan bahwa ruang sinema tidak selalu harus berdingin-dinding tebal, terkadang hanya membutuhkan orang-orang yang bersedia duduk untuk menonton.

Ulasan

Ulasan Modong: The Art of Having (2019)

Perspektif unik dari Diana Fitrianingsih lewat perantara Modong, nampaknya tersirat lebih dari sekedar trauma dan stigma sosial. Meskipun berbeda secara mendayagunakan gangguan jiwa sebagai representatif yang lebih dalam, sebagai penonton, kita diajak untuk menelusuri gejolak emosi yang dialami Modong.

Ulasan

Ulasan Balik Nama (In The Name of Liong) (2024)

Film ini menampilkan kedekatan emosional yang kuat di antar lintas generasi. Dengan penggambaran isu yang kuat, juga tampak sering terjadi pada realitas saat ini. Dan tak jarang juga, setiap orang juga berada dalam kondisi Umar, diantara kejujuran atau pragmatisme. Dan sutradara secara jelas ingin penonton merasakan dilema moral yang terjadi pada Umar.