Layar Kenduren

Deskripsi Program

Layar kenduren merupakan program pre-event Sewon Screening 12 yang akan diadakan di desa – desa sekitar Sewon dan Jogja. Dengan program ini, Sewon Screening 12 diharapkan bisa memperluas gema resonansi film pendek karya mahasiswa ke ranah yang baru yaitu masyarakat desa. Gema resonansi yang dimaksud diharapkan bisa menjadi medium baru untuk masyarakat desa berkontemplasi dengan diri pribadi masing-masing, keadaan lingkungan sosial, atau sebagai hiburan setelah hari yang penat

Catatan Program

Ketika kita mengingat, kita tidak sedang menyendiri dengan sebuah kenangan masa lampau. Kita diam-diam mengirim getaran, dan getaran itu baru terasa hidup ketika dijawab oleh getaran yang sama dari mereka yang duduk di samping kita. Bahwa tawa kita dulu, ternyata juga tawa mereka. Bahwa perjuangan yang kita lihat, ternyata juga perjuangan yang mereka saksikan. Bahwa rasa yang kita simpan, ternyata juga rasa yang mereka pendam. 

Film “Sepatu Septu” memberikan sebuah getaran tentang keinginan sederhana yang besar di mata anak-anak, dan tentang orang tua yang diam-diam berjuang di balik setiap “nanti” dan “belum”. Getaran itu lalu merambat ke film “Secarik”, membawa kita pada ruang paling intim, tentang keberanian pertama mengungkapkan rasa, tentang cinta yang masih terlalu polos untuk diucapkan. Kemudian pada film “Jamu Saking Wingking Měngajěng” mengingatkan kita bahwa di dusun, di dapur-dapur kecil, ada tradisi yang dirawat turun-temurun, ada pengetahuan yang diwariskan tanpa pernah diajarkan di sekolah, dan itu semua adalah bagian dari ingatan kita sebagai masyarakat. Perjalanan ditutup oleh film “Suraci”, yang membawa kita pada getaran paling murni, imajinasi seorang anak yang ingin mendinginkan matahari demi ibunya yang bekerja di bawah terik. Sebuah pengingat bahwa cinta tak selalu bisa diucapkan, kadang ia diwujudkan melalui cara-cara sederhana yang lahir dari dunia khayal anak-anak. Keempat film ini menjadi sebuah ruang dimana getaran-getaran itu bertemu, bergema, dan mengikat kita sebagai orang-orang yang pernah kecil bersama, tumbuh bersama, dan kini duduk bersama lalu menyadari bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam setiap resonansi yang masih bisa kita rasakan.

Artikel Terkait