Deskripsi Program
Sewon Film Fund adalah program pendanaan film pendek pertama oleh festival film mahasiswa di Indonesia. Sewon Film Fund adalah langkah kecil apresiasi Sewon Screening kepada komunitas-komunitas film yang telah berpartisipasi dan menjadi kekuatan Sewon Screening dari tahun ke tahun. Sewon Film Fund saat ini baru menjadi bagian dalam program Forum Komunitas. Komunitas yang berpartisipasi di Sewon Screening dapat mempresentasikan cerita, membuat rancangan karya, berkompetisi, dan saling menguatkan dengan komunitas lainnya. Pada akhir festival, pemenang akan diumumkan dan akan berlanjut pada proses produksi.
Kurator
Pius Rino Pungkiawan, S.Sn., M.Sn. S1 Jurusan Televisi , Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta lulus tahun 2013, melanjutkan ke Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta jurusan Penciptaan Seni Videografi lulus tahun 2015. Tergabung sebgai pengajar di Prodi FIlm dan Televisi Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta tahun 2018. Mengampu mata kuliah Fotografi, SInematografi dan Produksi Film Fiksi.
Greg Arya (@gregarya) adalah dosen di Prodi Film dan Televisi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang sekaligus juga seorang editor film. Ia juga tergabung dalam asosiasi Indonesian Film Editor (INAFED). Pernah terpilih sebagai salah satu editor dari Indonesia untuk mengikuti program editing di Berlinale Talents pada tahun 2015. Pada tahun 2019 terpilih sebagai Penyunting gambar terbaik Festival Film Indonesia untuk film Kucumbu Tubuh Indahku (2018). Beberapa film yang pernah dia kerjakan antara lain Denok & Gareng (2012), Siti (2014), Waktu Magrib (2023) dan Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu (2024).
Antonius Janu Haryono merupakan dosen di Program Studi Film dan Televisi, FSMR ISI Yogyakarta. Ia mulai mengenal dunia film saat menjadi mahasiswa dan menekuni penyutradaraan sejak 2009 melalui film pendek Hot Spot. Setelah menyelesaikan sarjana di Jurusan Televisi, ia melanjutkan studi magister Penciptaan Seni Videografi di ISI Yogyakarta. Sejak 2012, Janu aktif menyutradarai film pendek fiksi maupun dokumenter, dan pada 2013 merilis film panjang Selibat. Ia juga terlibat dalam berbagai produksi, seperti film layar lebar Mengejar Embun ke Eropa, film fiksi pendek Rong, dan web series Jogja, Kamu dan Rindu. Saat ini, ia mengembangkan proyek SINEPRAK (Sinema Kethoprak), di antaranya 1831 Hadeging Praja Bantul (2022), serta aktif di komunitas film Yogyakarta.
Spesial Kurator
Riza Pahlevi adalah sutradara asal Yogyakarta yang dikenal lewat film pendek horor Makmum (2015), yang kemudian diadaptasi menjadi film panjang berjudul sama pada 2019 dan dilanjutkan dengan Makmum 2 (2021) serta Khanzab (2023). Aktif sebagai sutradara, produser, dan penulis skenario, ia memulai karier dengan horor bernuansa lokalitas sebelum mengeksplorasi beragam pendekatan visual dan naratif lintas genre. Di ranah film panjang, Riza terlibat dalam produksi Ghibah, Mumun, dan Kapan Hamil, sementara dalam film pendek ia menghasilkan karya seperti Kronik Puriwicara (2023), Tumbas (2023), Kediaman (2023), Maaf Mama Aku Kelepasan (2022), Pingit (2022), dan Pemberian Terakhir (2017). Film-filmnya telah meraih penghargaan, termasuk Best Movie ACFFEST 2023 oleh KPK untuk Kronik Puriwicara, serta menjadi finalis pendanaan film Danais Dinas Kebudayaan DIY 2025 lewat Rumah Duka, menjadikannya salah satu sineas muda berpengaruh yang konsisten memberi warna dalam perfilman Indonesia.