Pagi di hari Jumat bertempat di Studio 1 Prodi FTV, menjadi awal dari rangkaian kegiatan panjang Sewon Screening #5 hari keempat. Dibuka dengan Kelas Bunga Matahari (selanjutnya ditulis KBM) yang mengundang Cafe Society, Suluh Pamuji, dan Hindra Setyani sebagai pembicara dengan tema “Pemutaran sebagai ruang dialog Filmmaker & Penontonnya”, KBM hari kedua ini mampu mengundang banyak pendengar.

Dari apa yang dibicarakan pada sesi KBM ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa Pemutaran film itu hendaknya bukan hanya tujuan semata, tapi mampu menampilkan kesegaran terus menerus secara periodik, dan mampu berbagi dampaknya, antara pembuat film dan penonton, dan akhirnya membentuk cara menonton film.  Salam pemutaran alternatif.

Pemutaran 1

Pada pukul 13.00 WIB, Open Gate untuk pemutaran pertama telah dilakukan. Para pengunjung dipersilahkan untuk mengisi daftar hadir dan melakukan pengecapan sebagai tanda bukti untuk masuk ke ruang R. AUVI.

Atmosfir antusias dapat dirasakan ketika banyaknya hadirin yang mengisi daftar hadir dan memasuki R. AUVI berbondong-bondong. Mereka akan menyaksikan pemutaran bertemakan: Dunia Anak. Dengan 4 film berjudul: Tangan-tangan Kecil, Tetet Dito, Peramal Kode Buntut, Penyelamat Dunia, dan Di Penghujung Hari Minggu.

Ketika salah satu dari keempat filmmaker ditanya saya mau tanya pada film penyelamat dunia, ini film banyak visual efeknya saya jarang banget melihat film pendek dengan visual efek dan cerita monster. Menurut saya unik. Dan bagaimana konsep pembuatanya film monster termasuk visual efeknya dan artistiknya

Fauzan, seorang Produser film tersebut menjawab: “Untuk pembuatan monster kami bekerja sama dengan salah satu kelomopok yang fokusnya untuk segala macam kostum. Itu untuk prosesnya sangat rumit dan belum optimal karena dipertengahan jalan itu sebenernya sedikit tidak rapi, jadi ya kurang halus dari sisi pengerjaan. Tapi untungnya untuk buget aman karena kita ada kerja sama.”

Pemutaran 2

Walau sedikit terlambat karena menunggu penonton yang telat, pemutaran kedua berjalan dengan lancar. Banyak dari komunitas, masyarakat umum, dan mahasiswa ISI mengisi daftar hadir sebelum memasuki ruang R. AUVI dan menyaksikan Sinawang, When You Lost & Lose, Malam Tahun Baru, Burung Yang Tak Kau Hendaki Berkicau, Obrolan, Meja Makan, dan Pring Ketiga, dan Garwo.

Dengan rangkaian film yang cukup unik, sesi pemutaran kali ini memberikan kenangan tersendiri bagi penonton yang hadir malam itu.

Special Screening

Setelah pemutaran kedua selesai di R. AUVI, penonton bergegas menuju Concert Hall untuk menyaksikan pemutaran spesial film Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho. Kali ini penonton harus memiliki tiket khusus untuk dapat masuk, tiket tersedia terbatas dan tidak semua penonton kebagian jatah.

Ketika ditanyai tentang perwakilan Kucumbu Tubuh Indahku sebagai film Indonesia di seleksi Oscar, Narina menjawab: “Kalau seleksinya sendiri, saya tau-tau dihubungi 3 besar gitu. Jadi PPFI atau komite seleksi Oscar Indonesia sudah menyeleksi terhadap film sampai puluhan ribu setau saya, saya lupa persis, tapi yang diambil memang 3 besar. Kemudian 3 besar ini akan dimintai pernyataan bahwa produser film sanggup dan bersedia mengirimkan filmnya ke Oscar. Karena, sejauh ini, semua pembiayaan material, kampanye disana itu, produser yang harus mencari uang. Tapi tidak tau jika tahun depan mendapat bantuan, karena kemarin bantuan pemerintah juga sangat minim. 3 besar itu harus menanda tangani dan mengirimkan materi itu.”

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *