Tepat pada pukul 10.00 WIB, Studio 1 Prodi Film dan Televisi dipenuhi oleh banyak pendengar yang datang berbondong-bondong mengisi Kelas Bunga Matahari (selanjutnya ditulis KBM) dengan materi utama “Distribusi Digital dan Dilemmanya”, dengan seorang pemateri bernama Agni Tirta.

Dibuka dengan sedikit latar belakang pemateri, sesi KBM kali ini langsung membahas tentang distribusi digital secara meluas. “Ok kalau bicara distribusi digital berarti kita sedikit menyinggung bagaimana film sebelum digital itu terdistribusikan, ini untuk perkenalan saja, dulu film sebelum digital, dulu susahnya film selesai tapi harus melewati proses mastering, dll.” kata Agni.

Setelah panjang lebar membahas seluk-beluk pendistribusian film, moderator memberi pertanyaan kepada Agni: “Saya mau nanya nih mas, film yang tadi mas Agni bilang tentang film-film UMY tentang tugas, nah beberapa ada yang mengerjakan karena ini tugas, nah terus tantangannya apa mas mendistribusikan film-film itu?”

Dengan banyaknya pengalaman tentang distribusi film, Agni menjawab: : “Tantangannya kalo film tugas itu tadi, filmmakernya belum tentu fokus didunia film, malah melarikan diri, padahal kita masih butuh. Banyak film Intrnasional dan Festival, banyak yang temanya film tugas. Nah karena masalahnya disitu, kembali ke pemain film dan kedua kalo kualitas sebenarnya sama, saya tidak bisa membedakan film mahasiswa atau professional, tapi kalo cerita masih beda. Film mahasiswa tidak sebegitu.”

Jeda 2 jam dari KBM, para pengunjung mulai memadati gedung Dekanat Fakultas Seni Media Rekam untuk menyaksikan pemutaran pertama di hari ketiga Sewon Screening #5. Antusiasme orang-orang terhadap pemutaran ini dapat dilihat dari antrian mengisi daftar hadir cukup panjang.

Bertemakan “Perjalanan Melampaui”, pemutaran kali ini membawa 6 film yang berjudul: As Long As karya Luthfiyyah Sesarini, MDMB karya Abig Sukma, Devine Intervention karya Indira Iman, Si Macan Liar karya Saepul Zabbar, Independent 48 karya Jonathan Wijaya, dan Telur Setengah Matang karya Reni Apriliana.

Seperti biasa, sebelum masuk R. AUVI pengunjung melakukan pengecekan seperti tanda cap yang di dapat dari mengisi daftar hadir, dan tidak boleh membawa makanan atau minuman dari luar. Pemutaran pun dimulai.

Ketika sesi diskusi, 3 filmmaker dari 6 film yang ditayangkan maju untuk membicarakan latar belakang dari film mereka. Ketika ditanyai tentang bagaimana film-film ini memiliki perjalananya masing-masing sehingga pada sampai hari ini.

Luthfi dari film As Long As menjawab: “untuk film as long as sendiri ini film dokumenter, saya yang menderek dan awalnya tidak terpikir mengambil gaya poetik, Cuma karena ini untuk tugas semester empat, untuk pembuatanya banyak mengalamai kendala internal dan eksternal akhirnya karena masalah waktu kemudian kami putuskan untuk mengambil gaya poetik”.

Pemutaran Kedua

Beberapa menit tepat setelah matahari terbenam, R. AUVI kembali dibuka untuk pemutaran terakhir di hari ketiga dengan tema utama “Yang Tak Tergantikan”. Tanpa diduga, pengunjung pemutaran kali ini sangat ramai sekali hingga membuat R. AUVI terasa pengap. Teman-teman filmmaker dan Forkom hadir dengan antusiasme luar biasa terhadap sederet film yang ditayangkan malam itu.

Dengan membawa 4 film utama berjudul: Satu Jalan dan Jalan Jalan Lainnya karya Muhammad Fikri, Lakuna karya Agusti Yudhatama, Yoasu karya Raka WS, dan Modong karya Diana Fitrianingsih. Dikatakan oleh salah satu penonton menjadi sesi pemutaran terbaik.

Saat sesi diskusi dibuka, keempat filmmaker maju dan memperkenalkan diri. Setelahnya moderator langsung melempar pertanyaan kepada mereka berempat: “Kok bisa kepikiran bisa bikin ide seperti itu proses kreatifnya seperti apa? Monggo mas Osa terlebih dahulu”

Osa yang mewakili Diana Fitrianingsih yang tidak bisa hadir, menjawab dengan: “Diana ini punya pengalaman luar biasa semasa kecilnya. Yaitu adalah merespon teman-temannya ketika membully orang gila. Mungkin beberapa dari kita mungkin waktu kecilnya suka membully orang gila. Nah di Diana ini menjadi sebuah ingatan yang kuat ketika orang gila itu tiba tiba hilang.”

Di akhir sesi diskusi, moderator memberikan sebuah kesimpulan dari keempat film yang diputar malam itu. “Aku membacakan kesimpulan, film Satu Jalan dan Jalan Jalan Lainnya, menggambarkan wujud rasa cinta seorang Ayah walaupun harus mengubah penampilannya untuk mencurahkan perasaan tersebut. Kemudian Modong mengajak kita melihat sesuatu lebih dalam,merasakan sesuatu yang sangat penting sehingga merubah tingkah lakunya dengan drastis. Lakuna menuturkan dengan cara lain bahwa eksistensi seseorang tetap penting meskipun dunia yang ditinggali sudah berbeda, pada akhirnya film Yoasu menyadarkan bahwa mencintai tidak peduli apapun, karena saat ia pergi selalu memiliki tempat spesial dan keberadaannya tidak tergantikan.”

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *