Pre-Event 3: Tentang kehilangan, dan yang tak akan kembali lagi selamanya.

Djefan, seorang mahasiswa yang hadir pada Pre-Event 3 25 September 2019 kemarin tidak mengira bahwa film yang ditayangkan akan membawa emosinya berputar-putar. Bagaimana tidak, dia memasang ekspektasi seperti pada Pre-Event 2 yang menayangkan beragam film cinta dengan bumbu humor. Namun kali ini tidak, mungkin bukan hanya Djefan yang terkejut. Semua yang hadir juga sama.

Dibuka dengan film dari Prancis, Un Grand Silence karya Julic Gordain. Penonton disuguhkan kisah tragis memilukan dari perempuan yang tak ingin kehilangan anak nya. Tidak berhenti sampai disitu, penonton terus disajikan deretan film dari Indonesia yang tak kalah tragisnya.

Walaupun pada saat pemutaran film tersebut sedikit ada kendala teknis, yang cukup sering terjadi. Namun tidak mengurangi esensi yang berusaha film tersebut sampaikan kepada penonton.

Tentang kehilangan, dan mereka yang ditinggalkan.

Un Grand Silence karya Julic Gordain berhasil membuat emosi penonton teraduk-aduk, namun tiga film dari Indonesia pun tak kalah saing. Ilalang Ingin Hilang Waktu Siang karya Loeloe Hendra, Bunga dan Tembok karya Eden Junjung, dan terakhir ada 05.55 karya Tiara Kristiningtyas, ketiga film tersebut semakin mengguncang perasaan penonton pada malam itu.

Bunga dan Tembok misalnya, menceritakan tentang keluarga alm. Wiji Thukul yang hilang pada tahun 1998. Keluarga nya yang belum rela, bahkan sempat meminta pertolongan kepada dukun untuk mencari kepala keluarga nya yang hilang.

05.55 yang menceritakan bermacam kegiatan beberapa menit tepat sebelum Gempabumi hebat mengguncang wilayah Bantul dan sekitarnya, membuat seisi auditorium merasa iba kepada korban bencana tersebut.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *