Pre-Event 2: Hadirnya gemerlap tawa dan keseriusan dengan bersamaan.

Pada tanggal 9 September 2019, bertempatkan di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta, mungkin dari sekian banyaknya panitia acara ini, tak akan ada yang menyangka kalau yang akan hadir sebanyak ini. Ruangan Screening sesak dipenuhi para penonton yang antusias akan ketiga film yang akan diputar di layar.

Acara Pre-Event 2 Sewon Screening ini bekerja sama dengan Festival Sinema Prancis, yang bertujuan untuk saling mengenalkan festival satu sama lain. Kolaborasi kemarin mengusung tema “L’Amour, Merde” atau Romansa yang Asu.

Dengan membawa 3 film yang ditayangkan kemarin, berikut adalah judul film nya: “Guy Moquet” oleh Demis Herenger, “Neng Kene Aku Ngenteni Koe” oleh Jeihan Angga, dan “Kisah Cinta yang Asu” oleh Yosep Anggi Noen.

Maksud utama dari acara yang diadakan kemarin adalah untuk menyambut gemerlap dan spektakuler nya Sewon Screening 5 nanti, yang berlangsung selama 8-12 Oktober 2019 dan berlokasi di kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Gemerlap Tawa dan Keseriusan

Ketika lampu padam, hening yang memancarkan rasa antusiasme luar biasa begitu terasa memenuhi seisi Auditorium malam itu. Film yang paling pertama diputar adalah Guy Moquet yang disutradarai oleh Demis Herenger, film asal Prancis ini menyajikan kisah romansa yang dibumbui dengan banyak komedi receh dan dewasa.

Gelak tawa terus menerus mengalir sampai film selesai diputar, belum selesai para penonton berhenti dari tertawa berkat Guy Moquet tadi, lalu tayanglah film kedua yang disutradarai oleh Jeihan Angga yang berjudul Neng Kene Aku Ngenteni Koe.

Film yang berlatar di kota Yogyakarta dan menggunakan bahasa Jawa ini kembali membawa para penonton tertawa terpingkal-pingkal berkat kecerdikannya mengolah isu Urbanisasi yang terbalutkan kisah romansa dan sekali lagi, komedi. Begitu unik dan relevan bagi kehidupan masyarakat Yogyakarta belakangan ini, sehingga apa yang tersaji di layar dengan mudah dilahap habis oleh penonton.

Kemudian ketika film ketiga ingin diputar, mungkin banyak dari hadirin berpikir kalau formula yang sama akan kembali diulang. Ekspektasi mereka berhasil dipatahkan dengan manis oleh film karya Yosep Anggi Noen yang berjudul Kisah Cinta yang Asu. Film ini membawa aura yang cukup kontras dari dua film pertama, lebih menunjukkan sisi kelam dan ironis dari kehidupan malam di Yogyakarta.

Dengan gaya penceritaan yang sangat baik untuk diikuti dan musik pengiring jempolan, film ini menjadi pamungkas dari acara Pre-Event 2 Sewon Screening yang berkolaborasi dengan Festival Sinema Prancis.

Penonton bertanya, Sutradara menjawab.

Ketika pemutaran film telah usai, dibuka lah sesi tanya jawab dengan mendatangkan dua sutradara dari film Neng Kene Aku Ngenteni Koe dan Kisah Cinta yang Asu.

Apa yang ditanyakan oleh para hadirin berkutat seputar isu-isu yang diangkat pada kedua film tersebut, terutama menyorot pada proses kreatif dibalik pembuatannya.

Disebutkan oleh Yosep Anggi, bahwa dalam proses mengembangkan cerita di film Kisah Cinta yang Asu sendiri membutuhkan riset yang serius.

“Itu luar biasa menurut saya, mungkin teman-teman perlu kesana (Pantai Parangkusumo) pada malam Jum’at Kliwon. Ada yang pernah kesana waktu itu? Pengalaman kalian buruk sekali ya, kopi-kopi terus” yang lalu disambut gelak tawa oleh para hadirin. Yang beliau maksud tentu saja pengalamannya ketika melakukan riset untuk film ini, yang dimana ia selalu menemukan hal yang ironis sekaligus unik diwaktu bersamaan.

Pertanyaan hadirin mengenai kenapa Industri perfilman berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta, ditanyakan pada Jeihan Angga: “Jogja sangat menarik sekali… gitu, untuk diangkat… Dan yang saya tahu, biaya syuting disini murah.” Jawabnya dilanjut dengan tawa.

Rasa penasaran masih ada, namun waktu semakin habis. Maka berakhirlah sesi tanya jawab, sekaligus mengakhiri juga rangkaian acara pada Pre-Event 2 Sewon Screening bersama Festival Film Prancis. Acara yang diadakan di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta ini, memberikan kita pandangan yang berbeda dalam melihat suatu film.

Kita tak bisa lagi hanya sekadar melihat film sebagai suatu hiburan penghabis waktu, dari acara ini kita dapat mengambil pesan-pesan tersembunyi yang ingin disampaikan oleh sutradara melalui film-film tersebut.

Menarik bukan, Sewon Screening masih memiliki 1 Pre Event di tanggal 25 September 2019, jadi bagi teman-teman yang belum sempat datang atau ingin datang lagi dicatat tanggalnya ya. Sekedar mengingatkan bahwa acara utama Sewon Screening juga nanti akan diadakan pada tanggal 8-12 Oktober di FSMR ISI Yogyakarta. [FHN]

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *